Untuk Hujan,
Sejak kecil aku suka sekali dengan semua hal yang berbau hujan. Aromanya, suasananya dan terlebih lagi suara tetesannya yang terjatuh. Tetapi waktu kecil orang tua ku selalu melarangku untuk bermain dengan hujan karena beberapa hal. Mereka selalu saja memberi stigma tidak baik tentang hujan agar aku membencinya atau bahkan menakutinya. Awalnya cara mereka berhasil membuat aku takut dengan hujan. Tetapi rasa cintaku dengan hujan lebih besar daripada ketakutannya jadi semuanya sia-sia. Setiap hujan datang aku selalu kucing-kucingan dengan orangtua ku untuk pergi keluar rumah untuk merasakan bermain dengannya walau cuma sebentar karena ketahuan dan akhirnya mereka marah kepadaku. Karna takut membuat mereka semakin marah akhirnya aku merubah cara bermainku dengan hujan. Aku hanya ke balkon lalu mengeluarkan tanganku untuk merasakan jutaan tetes yang terjatuh.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Aku semakin tumbuh menjadi perempuan dewasa ya walaupun masih terikat keras dengan wejangan orangtua namun aku masih mencintai hujan.
2014 adalah tahun pertama dimana aku sangat membenci hujan SANGAT. Karena untuk pertama kalinya aku kehilangan orang yang aku sayangi saat hujan turun. Disitu aku ingin marah, mengapa semuanya terasa tidak adil bagiku. Tetapi sekali lagi ternyata aku sudah terlalu mencintai hujan. Hujan menyembunyikan segala kesedihanku, tetesannya menarikku dari semua keterpurukan yang aku rasakan. "Di tempat itu" aku untuk pertama kalinya menangis di bawah hujan.
2017 3 tahun setelah kejadian itu banyak sekali peristiwa jatuh bangun yang aku rasakan. Banyak pula yang aku pelajari, aku jadi handal dalam memilih dan menggunkan berbagai macam topeng. Perlahan demi perlahan aku mulai kembali menyusun puzzle yang rusak dalam diriku, kepingannya banyak yang hilang entah kemana. Aku coba melanjutkan semua dengan kepingan yang tersisa. Tapi tetap aku masih menyukai hujan. Kali ini aku punya waktu lebih banyak untuk kerkencan dengan hujan, tidak jarang hujan datang tiba-tiba saat aku pergi menuju kampus, dan aku sengaja tidak menggunakan jas hujanku karena menurutku itu adalah kesempatan yang sangat baik yang jarang aku rasakan.
Kecintaanku akan hujan semakin bertambah ketika ada seorang baru yang memberikanku stigma baru kepada hujan "Hujan Dua Tetes" cinta dan bahagia. Sejak saat itu aku malah makin ingin sekali bertemu dengan hujan. Tapi rasanya aku terlalu jahat jika membiarkan orang itu untuk ikut menyukai apa yang aku sukai, terlebih lagi jarak yang ia tempuh lebih jauh daripada jarakku. Namun perlahan Hujan Dua Tetes itu memudar. Aku rasa musim panas memulai keegoisannya untuk mendominasi langit sehingga hujan itu memudar. Hingga pada saatnya... Saat saat yang paling aku benci itu datang lagi. Untuk pertama kalinya aku harus mengikhlaskan kepergian hujan dua tetes yang baru hadir sebentar itu untuk selamanya. Iya MENGIKHLASKANNYA padahal saat saat prosesnya aku selalu berharap bahwa akhirnya aku menemukan halte terakhir dihidupku, karena aku lelah transit di tempat yang berbeda. Aku ingin cepat sampai dan mulai membenahinya untuk menciptakan beberapa pencinta hujan lainnya. Ternyata lagi lagi aku salah. Bohong kalau aku benar-benar ikhlas, bagaimana aku bisa ikhlas membiarkan apa yang menjadi bahagiaku pergi? Dan apa aku harus menyalahkan hujan lagi untuk kejadian ini? Aku rasa tidak. Hanya saja aku yang harus bisa lebih lagi menegakan pundak dan lebih mantap berdiri agar bisa lebih jelas menatap kedepan. Dengan topeng tebal yang aku gunakan aku mulai menyusun puzzle itu kembali dan kali ini kepingannya semakin mengecil dan semakin banyak yang telah hilang apa kepingannya terbawa angin? Atau basah lalu hancur karena hujan? Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi, tapi mungkin aku bisa membuat kepingan palsu yang baru agar setidaknya semua terlihat utuh.
Pesan terakhir untuk musim panas. Maukah engkau berbagi langit dengan hujan dua tetes itu? Aku rasa langit akan senang jika kalian sama-sama mengisinya. Baiklah aku akan menunggu kalian dari bawah sini.
Yang berdiri di bawah hujan,
-14.11-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar